Sayup-sayup

Aku sendirian.

Ditengah hiruk pikuk kebencian.

Ditengah lolongan amarah dan kedengkian.

Tak kudapati wajah-wajah bersinar yang dulu menghiasi taman kalbu.

Inikah rasanya berada di tengah peperangan.

Sesuatu yang hanya pernah kubayangkan kini nyata terjadi.

Katanya semua ini sudah tertulis.

Tangisan. Letupan. Hinaan.
Aku bisa apa?
Aku sendirian.

Lalu sayup-sayup kudengar dalam hati. Bukan. Itu bukan suaraku.

Meneriakkan kata “Cukup!”

Merindukan rasa kasih sayang.

Menghamba pada iba.

Telah kuletakkan sebelah kakiku di tiang penyangga abu.

Kutarik lagi asaku yang telah kucelupkan dalam danau kebinasaan.

Tidak. Aku tidak sendirian. Ada mereka.

Sayup-sayup yang bergemetaran.

Sayup-sayup yang ingin merangkul kembali kehidupan.

Sayup-sayup yang menata puing-puing kebersamaan yang telah luluh lantak.

Kulihat bulan purnama seolah tersenyum padaku.

Tak kupahami apa artinya.

Tapi aku percaya, aku harus menemukan sayup-sayup itu satu demi satu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s